la vie pour l'amour♡

Your Tagline

  • 5th December
    2013
  • 05
Hatiku menangis, aku ingin menjerit dan meneriakkan kesepian. Aku ingin menunjuk kepada satu penyebabnya, tetapi tidak kutemukan apa-apa. Masih pantaskah aku menunggu kepulangannya? Atau….. biarkan saja luka ini sembuh sendiri tanpa perlu diberi obatnya; kamu.
felovania
  • 5th December
    2013
  • 05
Aku sudah mengalah demi kebahagiaanmu, jadi… nikmatilah dan berbahagialah. Tidak perlu merasa bersalah, doakan saja… agar aku dapat menemukan waktu yang tepat, untuk benar-benar lupa terhadapmu. Jika kau sudah menemukan sosok penggantiku, jangan lupa kenalkan padanya, bahwa aku; seseorang yang ingatannya tidak pernah mengenal lupa dengan seseorang yang kini bersamanya; kamu.
@felovania
  • 29th November
    2013
  • 29
  • 29th November
    2013
  • 29
Ini bukan lagi sekedar bagaimana aku menantimu. Karena, kamu belumlah lagi tercipta di sini. Tapi, ini tentang bagaimana aku memaknai hari, yang masih terasa kosong tanpamu. Karena, aku hanya ingin kamu tahu… suatu saat nanti, saat kamu akhirnya datang, berdiri di depan pintu lalu mengetuknya perlahan. Bahwa, aku setia dengan rasa percaya ini. Bahwa aku percaya, kamu pun menanti aku datang dan membuka pintu itu lalu tersenyum dan berkata… “Where have you been?”
Ayudewi (via ayudewie)
  • 22nd June
    2013
  • 22
  • 22nd June
    2013
  • 22
  • 22nd June
    2013
  • 22

The hardest parts.

Berat…

Berat rasanya sekarang tiada kamu dalam hari-hariku. Berat… berat rasanya aku harus membiasakan diri tanpa kamu. Setelah kamu membuat aku dapat membiasakan semuanya serba dengan kamu, serba melibatkan kamu, kini aku juga dibuat untuk membiasakan diri lagi tanpa kamu.

Singkat. 

Singkat semua perjalanan yang aku lewati dengan melibatkan “Kita”. Harusnya itu menjadi alasan kuat untuk aku dapat lebih cepat membiasakan diri tanpa kamu. Singkatnya waktu yang kita lewati harusnya tidak membuat langkahku seberat ini. Ini mungkin hanya rasa sakit yang dikecewakan. Ini mungkin rasa sakit yang mampu kamu gores begitu dalam tanpa kamu memerlukan waktu yang lama. Hebat. 

Belajar.

Belajar dari setiap kesalahan kecil. Belajar mengontrol emosi. Belajar untuk lebih kuat mungkin menjadikan semuanya lebih positif. Menutup segala luka dengan simpul senyum didepan orang banyak. Tertawa lepas seperti tidak ada beban mungkin hanya topeng yang sanggup aku pasang ketika aku dihadapan mereka agar aku terlihat seperti “Baik-baik saja”. Beribu-ribu kali aku coba untuk lupa, tapi daya ingatku begitu hapal akan setiap cerita yang pernah tertulis. Beribu-ribu kali logikaku untuk menolak, tetapi aku tidak dapat membohongi hati kecilku yang nyatanya sudah setengah namamu tertulis disana. 

Aku munafik, jika aku tidak rindu dengan kamu. Sebab, setiap detik aku logikaku menolak dengan apa yang dirasa oleh hati. Kamu sudah mengisi seperempat bagian dari semestaku. Udara yang aku hirup tidak lagi sesegar saat kau berada didekatku. Bohong, jika aku berusaha untuk tidak perduli. Nyatanya, aku masih ingin tahu apa kabar kamu, bagaimana kesehatanmu, bagaimana kuliah kamu, masih ingin sebenarnya mengingatkan banyak hal yang sering kau lupai. Masih banyak sebenarnya waktu yang dapat kita lewati. Aku tidak pernah menyangka, bahwa hal kemarin adalah masalah terberat dalam hubungan yang aku anggap terlalu serius. Main-mainkah kemarin itu? Hanya candaan yang konyolkah? Apa kau tidak punya hati? Apa kamu tidak punya perasaan?

Aku telah merelakan orang yang sangat berharga dalam hidupku. Aku taruhkan hatiku hanya untuk memilih dan membela kamu agar tetap bisa kumiliki, tapi, inikah caramu membalas semuanya? Ataukah ini hukuman dari Tuhan karena aku telah menyia-nyiakan seseorang yang telah mempertaruhkan hatinya agar aku dapat bahagia dengan kamu?

Aku ingin mencukupkan segalanya. Aku ingin mensyukurinya. Aku ingin mempersiapkan hatiku untuk yang lebih pantas aku titipkan. Kamu yang memang telah salah menilai, ataukah aku yang terlalu bodoh untuk mempercayai semuanya? Semua terlihat seperti sandiwara dan skenario yang telah kamu persiapkan sebelumnya, sebab semua terlihat mudah bagi kamu, bukan bagiku.

Berbahagialah, mungkin aku belum dapat melupakan, tetapi aku telah memaafkan kamu. Jauh sebelum kau memintanya. Dan, ketahuilah, jika aku sudah tidak lagi mencintaimu, aku senang, karena aku dan kamu pernah menjadi “kita”. Ketahuilah, saat kamu memilih untuk pergi, aku memilih untuk tetap tinggal dengan perasaan yang sama dan hati yang sama. Dan yang takkan terputus untukmu dariku adalah; Doa.

  • 13th February
    2013
  • 13